Pernahkah kita merasa bahwa membicarakan kekurangan orang lain terasa lebih renyah daripada membahas kebaikan? Di era informasi yang serba cepat ini, batasan antara berbagi kabar dan menyebar aib menjadi sangat tipis. Namun, jauh sebelum media sosial ada, Islam telah memberikan peringatan keras melalui sebuah surah yang sering kita baca: Al-Humazah.
Akar Masalah: Al-Humazah dan Al-Lumazah
Dalam kitab Ad-Durrul Mantsur, Imam as-Suyuthi menukil penjelasan Ibnu ‘Abbas yang sangat tajam. Beliau membedakan dua jenis penyakit lisan yang menghancurkan tatanan sosial: Al-Humazah dan Al-Lumazah.
Humazah adalah mereka yang hobi mengadu domba (namimah), orang yang berjalan dari satu perkumpulan ke perkumpulan lain hanya untuk memecah belah persaudaraan. Sementara Lumazah adalah para penggunjing yang kerjanya berburu aib orang lain. Menariknya, ayat ini turun sebagai respons terhadap tokoh kafir Quraisy, Umayyah bin Khalaf, yang selalu mencari celah untuk menghina Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan bahwa perilaku mencela adalah watak yang tidak layak dimiliki oleh seorang beriman.
Siapa Muslim yang Sejati?
Seringkali kita mendefinisikan kesalehan hanya dari panjangnya salat atau rajinnya puasa. Namun, Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Imam Ahmad membawa standar yang berbeda. Beliau menyebut bahwa seorang muslim sejati adalah mereka yang mampu menjamin orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.
Artinya, keberislaman kita belum dianggap sempurna jika tetangga, teman kantor, atau saudara sendiri masih merasa terancam kehormatannya oleh ucapan-ucapan kita.
Jebakan Ghibah dan Fitnah (Buhtan)
Banyak dari kita terjebak dalam pembelaan: “Tapi kan saya bicara kenyataan, memang dia begitu!”
Justru di situlah letak Ghibah. Nabi SAW menegaskan bahwa jika yang kita bicarakan itu benar, itulah ghibah. Jika yang kita bicarakan itu salah (dusta), maka itu disebut Buhtan sebuah kebohongan besar yang dosanya jauh lebih berat.
Al-Qur’an memberikan perumpamaan yang sangat “menjijikkan” untuk ghibah: seperti memakan daging bangkai saudara sendiri. Secara logika, tak ada orang waras yang mau memakan bangkai. Namun secara sadar, seringkali kita justru menikmati “hidangan” aib tersebut dalam obrolan sehari-hari.
Bahaya “Si Pembawa Kayu Bakar”
Istilah Hamalatal Hathab (pembawa kayu bakar) yang disematkan kepada istri Abu Lahab bukan sekadar kiasan fisik. Para ulama, termasuk Imam al-Bukhari, menjelaskan bahwa itu adalah simbol bagi pelaku adu domba. Seperti kayu bakar yang membesarkan api, namimah adalah bahan bakar yang membakar hubungan persaudaraan hingga hangus.
Dampaknya tidak main-main. Rasulullah SAW memperingatkan bahwa pelaku adu domba tidak akan masuk surga bersama golongan pertama. Mereka harus mempertanggungjawabkan “api” yang mereka nyalakan di dunia.
Fokus pada “Batang Kayu” di Mata Sendiri
Penyakit paling kronis di zaman ini adalah kemampuan kita melihat kotoran kecil di mata orang lain, namun gagal melihat batang kayu yang menghalang mata sendiri. Kita sangat jeli mengurusi dosa orang lain sampai lupa bahwa daftar dosa kita sendiri mungkin sudah menggunung.
Menjaga lisan memang bukan perkara mudah, tapi ia adalah kunci keselamatan. Di tengah dunia yang bising dengan cacian, menjadi pribadi yang diam atau hanya bicara yang baik adalah sebuah kemewahan iman.










