GAZA – Gencatan senjata rapuh yang ditengahi Amerika Serikat (AS) di Jalur Gaza kembali terancam bubar setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran pada Selasa (28/10/2025). Serangan yang diperintahkan langsung oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ini dilaporkan menewaskan puluhan orang dan menghantam sejumlah lokasi, termasuk area dekat rumah sakit.
Menurut Badan Pertahanan Sipil Gaza, yang berada di bawah otoritas Hamas, sedikitnya 26 hingga 30 orang tewas akibat serangan udara tersebut. Salah satu serangan fatal dilaporkan menghantam halaman belakang Rumah Sakit Al-Shifa, fasilitas kesehatan utama di Gaza. Serangan ini menandai eskalasi serius setelah gencatan senjata yang telah berjalan selama dua pekan.
Keputusan Israel untuk kembali menggempur Gaza dipicu oleh tuduhan terhadap Hamas yang dianggap melanggar kesepakatan. Menteri Pertahanan Israel, Yoav Katz, mengklaim bahwa Hamas telah menyerang pasukan Israel (IDF) di Gaza. “Serangan Hamas hari ini terhadap tentara IDF di Gaza merupakan pelanggaran batas, yang akan ditanggapi IDF dengan kekuatan besar,” tegas Katz.
Kantor Perdana Menteri Netanyahu mengonfirmasi bahwa militer telah diperintahkan untuk melancarkan “serangan dahsyat” di Gaza. Israel juga menuduh Hamas merekayasa proses penemuan jenazah sandera, sebagai bagian dari upaya untuk menunda pemulangan jasad sandera Israel yang masih berada di Gaza.
Di sisi lain, Hamas dengan keras membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyebut klaim Israel sebagai “alasan palsu” yang dikarang sebagai persiapan untuk agresi baru. Hamas menegaskan pihaknya tetap berkomitmen pada gencatan senjata, meskipun mereka menghadapi kendala dalam upaya menemukan dan memulangkan jenazah sandera akibat kerusakan parah di Gaza.
Meskipun Israel melancarkan serangan besar, Wakil Presiden AS JD Vance, dari pemerintahan yang menengahi kesepakatan, menegaskan bahwa gencatan senjata secara teknis masih berlaku. Vance mengakui telah terjadi “pertempuran kecil” di lapangan, namun bersikeras bahwa kesepakatan perdamaian yang lebih besar masih dipertahankan.
Serangan terbaru ini menempatkan masa depan gencatan senjata di ujung tanduk, sementara krisis kemanusiaan di Gaza semakin memburuk. Masyarakat internasional kini menanti respons mediator dan pihak penjamin kesepakatan untuk mencegah konflik kembali meletus menjadi perang skala penuh.










