SERANG – Ratusan warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat dan Mahasiswa Kramatwatu kembali menggelar aksi unjuk rasa di Kabupaten Serang, Banten, Senin (27/10/2025). Ini merupakan aksi kedua mereka setelah protes serupa dilakukan sekitar sepuluh hari lalu.
Massa aksi memprotes dua masalah utama yang tak kunjung selesai: kondisi jalan yang gelap gulita akibat minimnya penerangan dan maraknya truk pengangkut tambang yang merajalela.
Kekesalan warga memuncak karena jalan utama di wilayah mereka, khususnya Jalan Raya Serang-Cilegon, kini dipenuhi oleh truk-truk Over Dimension Over Loading (ODOL). Truk-truk bermuatan hasil tambang ini dituding sebagai biang keladi kemacetan parah dan penyebab utama kecelakaan lalu lintas yang telah memakan korban jiwa.
Selain masalah truk, warga juga menyoroti minimnya fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU). Kondisi jalan yang gelap di malam hari dianggap semakin membahayakan keselamatan pengendara, terutama dengan lalu lalangnya kendaraan berat.
Dalam aksi hari ini, massa aksi secara khusus mendesak kehadiran Gubernur Banten, Andra Soni. Warga menuntut gubernur untuk tidak hanya memberi pernyataan, tetapi datang langsung menemui mereka dan mengambil langkah tegas di lapangan.
Tuntutan ini muncul karena warga merasa kecewa. Setelah aksi pertama mereka pada pertengahan Oktober, Gubernur Andra Soni sebenarnya telah merespons. Dalam rapat koordinasi sekitar 17 Oktober lalu, gubernur telah meminta agar truk tambang tidak lagi melintas di Kramatwatu dan dialihkan untuk masuk melalui pintu Tol Cilegon Timur.
Namun, kenyataannya di lapangan, instruksi tersebut dinilai tidak berjalan efektif. Truk-truk ODOL dilaporkan masih bebas melintas di jalur arteri Kramatwatu.
Hingga berita ini diturunkan pada Senin sore, aksi unjuk rasa dilaporkan masih berlangsung. Warga menegaskan akan terus melakukan aksi hingga ada solusi nyata dan permanen dari pemerintah untuk menghentikan truk ODOL yang melintasi permukiman mereka.










