Majalengka – Pengelola kawasan konservasi telah secara resmi mengumumkan penutupan total jalur trekking di Gunung Situmpuk Bantaragung, Sindangwangi, Majalengka. Keputusan tegas ini diambil setelah ditemukan bahwa aktivitas pendakian yang selama ini berjalan ternyata berada di luar jalur yang semestinya dan masuk ke dalam zona rimba, sebuah area yang seharusnya steril dari kegiatan wisata massal demi menjaga kelestarian ekosistem.
Pemberitahuan yang dikeluarkan menyebutkan bahwa kegiatan pendakian di Gunung Situmpuk selama ini tidak sesuai dengan peruntukan zonasi kawasan. Aktivitas tersebut berlangsung di dalam zona rimba, yang merupakan area inti konservasi dengan tingkat perlindungan sangat tinggi.
“Sehubungan dengan aktivitas trekking di Gunung Situmpuk yang lokasinya tidak sesuai zonasi (pada zona rimba), kami informasikan bahwa jalur trekking di lokasi tersebut ditutup,” demikian bunyi pernyataan resmi dari pihak pengelola.
Alasan Penutupan: Melindungi Ekosistem Inti
Penutupan ini bukan tanpa alasan. Zona rimba dalam sistem zonasi taman nasional atau kawasan konservasi alam adalah area yang memiliki keanekaragaman hayati asli dan masih sangat alami. Kawasan ini sengaja dibiarkan tanpa campur tangan manusia untuk melindungi habitat flora dan fauna sensitif serta menjaga proses ekologis alami.
Para ahli konservasi menjelaskan bahwa pembukaan jalur trekking di zona rimba dapat membawa dampak destruktif, antara lain:
- Kerusakan Vegetasi: Jalur setapak yang terus-menerus dilalui pendaki dapat memadatkan tanah dan merusak vegetasi lantai hutan yang penting bagi keseimbangan ekosistem.
- Gangguan Satwa Liar: Kehadiran manusia dapat mengganggu koridor satwa, mengubah perilaku mereka, dan bahkan memaksa mereka pindah dari habitat aslinya.
- Potensi Sampah dan Api: Peningkatan aktivitas manusia juga berisiko tinggi meninggalkan sampah anorganik dan meningkatkan potensi kebakaran hutan akibat kelalaian.
Langkah penutupan ini merupakan bagian dari upaya mitigasi untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada ekosistem Gunung Situmpuk yang masih asri.
Sosialisasi dan Langkah ke Depan
Pihak pengelola menyatakan telah melakukan sosialisasi intensif kepada berbagai pihak terkait, termasuk komunitas pegiat alam, operator wisata lokal, serta masyarakat yang tinggal di sekitar kaki gunung. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya mematuhi aturan zonasi dan bersama-sama menjaga kelestarian alam.
“Kami telah melakukan sosialisasi kepada pihak terkait dan masyarakat sekitar untuk menghentikan aktivitas trekking di lokasi tersebut,” lanjut pernyataan itu.
Ke depannya, belum ada informasi apakah akan dibuka jalur alternatif yang sesuai dengan zonasi pemanfaatan wisata. Namun, untuk saat ini, para pendaki dan pencinta alam diimbau untuk menghormati keputusan ini dan tidak melakukan aktivitas pendakian ilegal di jalur yang telah ditutup demi keselamatan bersama dan kelestarian lingkungan. Penutupan ini menjadi pengingat penting bahwa menikmati keindahan alam harus selalu sejalan dengan prinsip-prinsip konservasi.










