Kunjungan ini merupakan buntut dari kegaduhan di kalangan santri setelah penayangan program “Xpose Uncensored” yang dinilai sarat dengan narasi sepihak. Konten acara tersebut dikecam oleh berbagai pihak karena dianggap hanya merepresentasikan opini rumah produksi tanpa didasari fakta yang komprehensif.
Rombongan dari Jakarta, yang di antaranya didampingi oleh Prof. M. Nuh, tiba di lokasi sekitar pukul 10.05 WIB. Kedatangan mereka disambut oleh Kapolres Kediri Kota, AKBP Anggi Ibrahim Saputra. Sebelum bertemu dengan para Masyayikh, delegasi Trans7 transit sejenak di sebuah gedung di area timur Masjid Al-Hasan.
Pada saat yang sama, para Masyayikh Lirboyo tengah melangsungkan rapat internal di Gedung Yayasan. Sekitar pukul 10.24 WIB, rombongan Trans7 akhirnya dipersilakan memasuki ruang pertemuan untuk memulai dialog.
Proses audiensi dilangsungkan secara tertutup untuk menjaga kerahasiaan dan kekhidmatan diskusi. Para awak media hanya diizinkan mengambil dokumentasi visual selama beberapa saat di awal sesi, sebelum kemudian diminta untuk menunggu di luar ruangan.
Langkah mediasi ini diambil setelah Direktur Produksi TRANS7, Andi Chairil, sebelumnya telah menyampaikan permohonan maaf secara langsung. Pertemuan di Lirboyo ini menjadi upaya lanjutan untuk meredakan situasi dan menjalin kembali komunikasi yang baik dengan salah satu pondok pesantren terbesar di Indonesia itu. (Adam/ZP)










